Media krimsus polri news com
Flores Timur – Krimsus Polri
Gagasan menjadikan Lamakera sebagai episentrum peradaban kembali mengemuka menjelang pelaksanaan Reuni VII dan Musyawarah Nasional (Munas) II Yayasan Masyarakat Lamakera (YAMALI) Tahun 2026. Momentum tersebut dinilai tidak hanya sebagai ajang silaturahmi para diaspora Lamakera, tetapi juga menjadi forum strategis untuk menyatukan pemikiran, memperkuat persaudaraan, dan merumuskan arah pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Melalui tulisan opininya, Ustad Basir Bukhari menegaskan bahwa predikat Lamakera sebagai episentrum peradaban tidak boleh berhenti sebagai slogan semata. Menurutnya, sebuah peradaban yang kuat hanya dapat dibangun melalui kerja kolektif yang berpijak pada kemajuan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan nilai-nilai keagamaan, moralitas, serta persatuan seluruh elemen masyarakat.
Ustad Basir mengajak masyarakat untuk bercermin pada sejarah para leluhur Lamakera yang berhasil menjadikan laut sebagai sumber kehidupan dan kemajuan. Dengan mengelola potensi kelautan secara bijaksana, para pendahulu mampu membiayai pendidikan generasi penerus hingga melahirkan banyak putra-putri Lamakera yang kini mengabdi sebagai dosen, guru, aparatur sipil negara, anggota DPRD, hingga anggota DPR RI.
"Keberhasilan itu membuktikan bahwa Lamakera memiliki modal sosial, budaya, dan intelektual yang besar untuk terus berkembang serta menghadapi tantangan zaman," tulis Basir.
Ia juga menilai kehadiran Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dalam rangkaian Reuni VII dan Munas II YAMALI 2026 merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap potensi besar yang dimiliki Lamakera. Menurutnya, perhatian tersebut harus dijawab dengan persatuan, kesiapan, dan komitmen bersama untuk mempercepat pembangunan daerah.
Namun demikian, Basir Bukhari mengingatkan bahwa kebangkitan Lamakera tidak akan terwujud apabila masyarakat masih terjebak dalam ego sektoral, persaingan yang tidak sehat, serta mulai memudarnya penghormatan kepada orang tua dan nilai-nilai agama. Ia menilai persoalan-persoalan tersebut harus menjadi bahan introspeksi bersama agar tidak menghambat lahirnya generasi yang unggul dan berkarakter.
Menurutnya, kuatnya ikatan kekerabatan masyarakat Lamakera seharusnya menjadi modal utama dalam membangun kolaborasi. Perbedaan pandangan harus dikelola sebagai kekuatan untuk melahirkan gagasan-gagasan besar, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.
Karena itu, Basir berharap Reuni VII dan Munas II YAMALI 2026 menjadi momentum evaluasi sekaligus rekonstruksi pemikiran seluruh anak Lamakera. Ia mengajak seluruh masyarakat, baik yang berada di kampung halaman maupun di berbagai daerah di Indonesia, untuk meninggalkan rivalitas, mempererat persaudaraan, serta membangun budaya gotong royong demi mewujudkan Lamakera yang maju, bermartabat, dan berdaya saing.
"Bila hati, pikiran, dan langkah seluruh anak Lamakera mampu disatukan dalam satu visi, maka Lamakera tidak hanya dikenang karena sejarahnya, tetapi juga akan tampil sebagai episentrum peradaban yang memberi inspirasi bagi Nusa Tenggara Timur dan Indonesia," tutup Ustad Basir Bukhari.
Jurnalis: Dhika Ahmad M



Social Header