Breaking News

Di Tengah Trauma Gempa, Kades Motonwutun Jadikan Idul Adha Momentum Pemulihan Warga



Lamakera -media krimsus polri news com & tv id -*Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di wilayah Lamakera dan Motonwutun tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan semata, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan psikologis masyarakat pasca rentetan gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut.


Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, mengatakan bahwa semangat kurban menjadi penguat harapan dan sarana trauma healing bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam kecemasan akibat gempa susulan yang terus terjadi sejak gempa utama pada 8 April 2016.


Gempa berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pukul 23.55 WITA dengan kedalaman 5 kilometer itu dikategorikan sebagai gempa dangkal. Berdasarkan data Stasiun Geologi Kupang, tercatat sekitar 270 kali gempa susulan terdeteksi alat sensor BMKG. Sementara dalam catatan masyarakat dan pemerintah desa, getaran yang benar-benar dirasakan warga mencapai sekitar 33i kali.


“Langkah utama pemerintah pasca gempa adalah bagaimana menenangkan psikologi masyarakat. Kami turun langsung ke rumah-rumah warga maupun tenda darurat untuk memberikan penguatan supaya masyarakat tidak panik,” ujar Mirdan Muhammad.


Menurutnya, pemerintah desa terus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap isu-isu terkait prediksi gempa besar yang justru memperparah rasa takut dan trauma warga.

“Kami tegaskan bahwa sumber informasi resmi hanya dari Stasiun Geologi Kupang dan BMKG. Jangan mudah percaya isu yang membuat masyarakat semakin cemas,” Pungkas Mirdan Muhammad 


Selain fokus pada pemulihan psikologis, pemerintah desa juga mendorong masyarakat agar tetap menjalankan aktivitas ekonomi seperti biasa. Nelayan tetap diminta melaut, pedagang tetap berjualan, dan aktivitas sosial masyarakat tetap berjalan agar kondisi ekonomi dan mental warga tetap stabil.

“Kami ingin masyarakat tetap beraktivitas normal. Kalau ekonomi berhenti, maka kondisi masyarakat akan semakin berat,” ungkapnya.


Kades Mirdan menyebutkan, Pada momentum Idul Adha tahun ini, sebanyak 8 ekor sapi dan 4 ekor kambing kurban disalurkan kepada masyarakat di wilayah Lamakera dan Motonwutun. Hewan kurban tersebut didistribusikan ke sejumlah titik ibadah, termasuk Masjid Besar Al-Ijtihad  Lamakera di wilayah administrasi Desa Watobuku dan Mushalla Baburrahmah Tanjung Motonwutun di wilayah administrasi Desa Motonwutun.


Salah satu sapi kurban berukuran besar diketahui berasal dari bantuan Rumah Amal Salma Bandung. Meski secara administratif dicatat atas nama desa untuk kepentingan pelaporan, seluruh hewan kurban tetap dikelola bersama oleh panitia dan diperuntukkan bagi masyarakat seluruhnya.


Bagi Mirdan Muhammad, kurban bukan sekadar soal pembagian daging, tetapi tentang bagaimana masyarakat menghidupkan nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim.

“Kurban bukan hanya soal makan daging. Nilai utama yang harus kita ambil adalah tentang keikhlasan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah SWT. Nilai-nilai itu yang harus kita hidupkan dalam kehidupan sosial masyarakat,” tutur Mirdan Muhammad.


Ia menilai, suasana kebersamaan dan silaturahmi dalam momentum Idul Adha perlahan membantu masyarakat bangkit dari trauma pasca bencana.

“Momentum kurban ini membuat masyarakat merasa terhibur, silaturahmi kembali kuat, dan rasa takut perlahan mulai berkurang. Ini menjadi bagian dari pemulihan bersama,” tutupnya.


Jurnalis ; Dhika Ahmad M

© Copyright 2022 - mediakrimsuspolri.com