MEDIA KRIMSUS POLRI NEWS COM//--*
KUANTAN SINGINGI – Nama Dekri mendadak menjadi sorotan publik setelah sejumlah pemberitaan media online dan video aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sejumlah titik lokasi Desa Petapahan dan sekitarnya yang masih wilayah Kecamatan Gunung Toar, Wilayah hukum Polsek Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, menyeret namanya sebagai pemodal, penyewa lahan dan pemilik alat berat jenis excavator yang diduga beroperasi di lokasi tambang ilegal tersebut.
Menanggapi isu yang terus berkembang sejak 6 Mei 2026 hingga 9 Mei 2026, Dekri akhirnya buka suara dan menyampaikan kekecewaannya atas pemberitaan yang dinilai telah menggiring opini publik tanpa bukti yang jelas.
“Saya sangat menyayangkan adanya pemberitaan dan narasi yang terus menyebut nama saya sebagai pemilik alat berat maupun pemodal untuk aktivitas PETI di Petapahan maupun wilayah Gunung Toar. Padahal sama sekali tidak ada kaitan saya dengan aktivitas tambang ilegal tersebut,” ujar Dekri kepada redaksi, Sabtu siang (9/5/2026).
Dekri menegaskan, dirinya bukan pemilik excavator maupun pemodal aktivitas PETI sebagaimana yang berkembang di sejumlah media dan media sosial.
“Jangankan sebagai pemilik tambang atau pemilik alat berat PETI di wilayah itu, bahkan samasekali tidak ada kaitannya saya dengan aktivitas PETI di sana. Saya heran kenapa nama saya terus digiring dalam isu ini,” tegasnya.
Menurut Dekri, dirinya bahkan telah meminta sejumlah wartawan yang melakukan konfirmasi agar melakukan investigasi langsung ke lapangan demi memastikan siapa sebenarnya pihak yang terlibat dalam aktivitas PETI tersebut.
“Saya sudah sampaikan ke beberapa rekan wartawan, silakan cek langsung ke lapangan. Cari tahu siapa sebenarnya pelaku atau pemilik alat berat itu. Jangan hanya menggiring opini dan menyudutkan nama saya,” katanya dengan nada kesal.
Ia juga mengaku sedang menelusuri pihak-pihak yang pertama kali membawa namanya ke ruang publik dalam isu PETI tersebut.
“Saya sedang mencari tahu siapa yang membawa dan menggiring nama saya dalam persoalan ini. Saya tegaskan, isu itu tidak benar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dekri justru meminta aparat penegak hukum segera turun tangan menindak aktivitas PETI di wilayah Petapahan dan Gunung Toar agar polemik yang berkembang di tengah masyarakat tidak terus liar.
“Saya minta APH segera tindak aktivitas PETI itu. Supaya jelas siapa sebenarnya pelaku dan pemiliknya. Jangan nama saya terus dibawa-bawa tanpa dasar,” tegas Dekri melalui pesan WhatsApp kepada redaksi.
Nama Dekri Muncul di Tengah Sorotan terhadap Oknum DPRD
Polemik mencuat setelah beredarnya sejumlah video dan foto aktivitas PETI menggunakan alat berat excavator di wilayah Petapahan. Dalam salah satu video yang viral sejak 6 Mei 2026, muncul tulisan yang menyebut:
“Tambang emas ilegal di Desa Petapahan Gunung Toar, Dekri disebut nama pemodal, diduga sewa lahan capai ratusan juta rupiah.”
Kemudian pada 9 Mei 2026, kembali beredar dokumentasi baru di sebuah grup WhatsApp nasional yang memperlihatkan aktivitas PETI berskala besar menggunakan hingga tiga unit excavator dengan sistem box penyaringan emas.
Dalam dokumen yang beredar tersebut, salah satu narasumber menyebut bahwa satu unit alat berat diduga milik Dekri. Informasi itulah yang kemudian memicu konfirmasi lanjutan dari Athia wartawan yang juga Redaksi, konfimasi kepada Dekri.
Namun Dekri kembali membantah keras tudingan tersebut dan meminta publik tidak langsung mempercayai isu yang belum terbukti.
Menariknya, munculnya nama Dekri justru menimbulkan tanda tanya di tengah publik. Pasalnya, selama lebih dari satu bulan terakhir, sorotan berbagai pemberitaan media online dan media sosial lebih banyak mengarah kepada seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Kuantan Singingi berinisial RD yang disebut-sebut terkait aktivitas PETI di wilayah tersebut.
Bahkan salah satu redaksi media sempat mempertanyakan munculnya nama baru dalam pusaran isu PETI tersebut.
“Selama ini yang menjadi sorotan publik adalah oknum anggota DPRD berinisial RD. Kok tiba-tiba sekarang berubah menyeret nama Dekri? Publik tentu bertanya-tanya, apakah ini pengalihan isu?” tulis salah satu komentar redaksi di grup WhatsApp.
Sementara itu, aktivitas PETI di Desa Petapahan sendiri terus menuai kecaman masyarakat. Sejumlah pemberitaan media menyebut aktivitas tambang emas ilegal kini berlangsung terang-terangan menggunakan alat berat jenis excavator merek CAT dan beberapa merek lainnya.
Warga menilai aktivitas tersebut tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan sudah terorganisir dan berlangsung masif.
Selain merusak bentang alam dan kawasan perbukitan, aktivitas PETI juga dikhawatirkan memicu pencemaran sungai hingga banjir bandang di wilayah Gunung Toar.
Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polres Kuansing dan Polda Riau, untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap seluruh pelaku PETI tanpa tebang pilih.
“Kalau memang hukum masih berdiri tegak, segera usut siapa pemilik alat berat dan siapa aktor di balik PETI ini. Jangan sampai masyarakat menilai ada pembiaran,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Hingga berita ini diterbitkan, aktivitas PETI di wilayah Petapahan disebut masih terus menjadi perhatian publik dan memicu polemik di tengah masyarakat Kuantan Singingi.
Berita bersambung,
Tim red



Social Header