*Penulis: Zainal Abidin Hs*
*Jabatan: Kepala Perwakilan Wilayah Sumatera Barat (Kaperwil Sumbar)*
*Media: http://Mediakrimsuspolrinewstv.com*
*PADANG, SUMATERA BARAT –* Kalau berbicara tentang para PEMBOHONG, kepada siapa kita tujukan? Yang jelas kepada orang perorangan, individu, oknum aparat pejabat.
Masyarakat banyak menuding bahwa kebohongan banyak dilakukan oleh oknum pejabat, melalui wacana-wacana berpangkat tapi tidak berujung. Mereka sengaja lupa diri, apalagi kepada teman dan imannya, seperti orang yang memang tidak beriman. Mereka bekerja semakin hari semakin semaunya sendiri.
Biasanya para PEMBOHONG terlihat sangat taat, seperti rajin sholat lima waktu. Dia menunjukkan seolah-olah ia orang paling jujur, paling alim dan taat beragama di mata masyarakat. Inilah cara penggunaan perisai paling ampuh untuk menutup-nutupi segala kebohongannya itu.
Padahal, PEMBOHONG mengetahui bahwa agama yang dianutnya melarang untuk berbuat bohong. Tapi pejabat itu merasa tidak peduli. Yang penting masyarakat bisa terbius atas KEBOHONGANNYA dan masyarakat menilai sosok pejabat itu tidak mungkin berbohong kepada masyarakatnya.
Pejabat PEMBOHONG juga tidak menyadari bahwa Allah Ta'ala sangat murka kepada umatnya yang pembohong, apalagi yang dibohonginya jutaan manusia. PEMBOHONG itu sangat munafik.
Ada tiga tanda-tanda orang munafik:
1. Jika berbicara, banyak bohongnya
2. Jika berjanji, senang mengingkarinya
3. Jika diberi amanah, sering mengkhianatinya
Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah seorang pejabat yang suka BERBOHONG / MUNAFIK, selalu ingkar janji dan berkhianat dapat kita sebut sebagai sosok seorang pemimpin yang baik?
Kita selaku masyarakat perlu mengetahui bahwa KEBOHONGAN dan kemunafikan itu adalah perkara serius dalam urusan agama dan merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah dan para Rasul. Apalagi yang melakukan KEBOHONGAN itu adalah pemimpin negeri yang mayoritas berpenduduk muslim. Maka umat beragama wajib menolak calon kepemimpinannya ke depan.
Pejabat PEMBOHONG selalu menjual kebohongannya melalui media seperti TV, Tabloid, Majalah, dan surat kabar lokal maupun nasional. Karena masif dibaca dan didengar masyarakat, maka manusia PEMBOHONG dan MUNAFIK ini benar-benar sudah rusak mentalnya. Maka aturan dalam kepemimpinannya juga dijamin rusak.
Kebohongan calon pejabat ini memang diketahui oleh para kroni-kroninya atau bawahannya, namun tidak semua bawahannya merasa setuju, karena bertentangan dengan batinnya, sekaligus sangat bertentangan dengan norma-norma agama yang mereka anut.
Kalau kebohongan itu merupakan suatu perintah atasan, maka bawahannya tidak dapat menolaknya. Kalau menolak, maka bawahannya itu akan menerima sanksi yang berakibat fatal terkena ancaman seperti penundaan kenaikan pangkat jabatan, karier bisa terhambat karenanya.
PEMBOHONG hanya berpikir bagaimana cara untuk memperkaya gaya hidupnya sendiri, seakan-akan mereka hidup selamanya di dunia ini. Korupsi ada di mana-mana, mereka tidak peduli uang siapa yang dikorupsinya. Apakah uang dari APBD, jatah uang makan masyarakat miskin, bahkan jatah uang rakyat yang tertimpa bencana. Semuanya dilahap dengan rakus oleh si PEMBOHONG.
Mereka senang menari-nari di atas punggung kesengsaraan masyarakatnya, mereka tidak peduli dengan dosa yang bergelimang yang akan menimpa sampai ke anak cucunya. Mereka gelap mata tertutup uang hasil korupsi. Yang penting pundi-pundi dan perut si PEMBOHONG itu bisa gendut.
Yaa Ampun, terkutuklah hidup mereka wahai para PEMBOHONG dan MUNAFIK... Amin.
*Demikian rilis opini ini disampaikan.*
*Hormat Kami,*
*Zainal Abidin Hs*
*Kaperwil Sumbar http://Mediakrimsuspolrinewstv.com*



Social Header