GUNUNGSITOLI —media krimsus news.com
Kritikan keras dilayangkan oleh Mayjen (Purn) Drs. Christian Zebua, MM, kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli. Ia menilai kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berpihak kepada kepentingan rakyat dan kurang memberdayakan ekonomi masyarakat lokal.
Kritik ini disampaikan Christian Zebua saat berdiskusi dengan DPD LSM GMICAK Kepulauan Nias dan DPC Pemuda Peduli Nias (PPN) Kota Gunungsitoli di Kopi Kana, Jl. Yos Sudarso Ujung No. 178, Gunungsitoli, Rabu (20/8/2025) malam.
Sorotan Surat Persetujuan untuk Yayasan Kemala Bhayangkari
Christian Zebua secara khusus menyoroti surat dari Sekretaris Daerah Kota Gunungsitoli yang memberikan persetujuan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) Cabang Nias untuk menyediakan makanan di sembilan sekolah. Menurutnya, langkah ini tidak tepat karena lokasi-lokasi tersebut sudah memiliki dapur MBG yang dikelola oleh Kodim.
"Harusnya ada koordinasi dengan Kodim karena dapur sudah ada di sana. Kalau Polisi ingin bangun dapur, seharusnya di tempat yang belum memiliki dapur. Tapi yang terjadi justru tidak melindungi rakyat, seolah takut dengan penguasa. Jangan sampai rakyat yang sudah bangun dapur jadi korban," tegasnya.
Dorongan untuk Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Selain menyoroti tumpang tindih dapur MBG, Christian Zebua juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas kebutuhan pokok. Ia mengingatkan agar pasokan bahan pangan seperti telur, ayam, sayur, dan beras tidak selalu bergantung dari luar daerah.
Ia mendorong Pemerintah Desa untuk menggunakan Dana Desa secara produktif, misalnya untuk membangun sarana produksi pangan, termasuk kandang ayam. Hal ini, menurutnya, dapat membuka peluang investasi dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.
"Pemerintah Daerah tidak berpihak kepada rakyatnya. Padahal ada banyak hal yang bisa dilakukan. Pemerintah Desa punya Dana Desa, itu bisa dipakai untuk membangun usaha produktif," ungkapnya.
Seruan kepada Aktivis dan LSM
Lebih lanjut, Christian Zebua menyerukan kepada aktivis organisasi masyarakat (Ormas) dan LSM untuk mengambil peran sebagai kontrol sosial dan mensosialisasikan manfaat program MBG yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.
Ia berharap, meskipun Pemerintah Daerah tidak terlibat langsung dalam program ini, mereka dapat mengambil manfaatnya untuk mendorong ekonomi kerakyatan dan bertanggung jawab atas harga hasil pertanian serta bahan pokok yang semakin tidak stabil di Kepulauan Nias.
Data Penerima Manfaat
Sebagai informasi, Pemerintah Kota Gunungsitoli telah menerbitkan Surat Nomor: 400.7.13.4/4608/KESRA/2025 tanggal 30 Juli 2025. Surat tersebut mencantumkan sembilan sekolah sebagai penerima manfaat program MBG dengan total 3.313 siswa, mencakup tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sekolah-sekolah tersebut adalah:
TK. Swasta Katolik Cenderawasih (212 orang)
UPTD TK. Negeri 1 Pembina Gunungsitoli (135 orang)
TK. Kemala Bhayangkari-16 Nias (142 orang)
SD. Swasta Muhammadiyah (179 orang)
SD. Swasta RK Mutiara Bersubsidi (666 orang)
SMP. Swasta Bunga Mawar (558 orang)
SMP. Swasta Muhammadiyah 32 (26 orang)
UPTD SMP. Negeri 1 Gunungsitoli (923 orang)
SMA. Swasta Santu Xaverius (472 orang)
_Torotodo Lase_
Social Header